KONSTRIBUSI ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN DI ERA MILLENIA

Nashruddin, S.Pd., M.Pd.
(Kepsek SMPN 8 Harapan Kab. Barru)

Disajikan pada Seminar Internasional Agupena Kab. Barru 27-28 April 2019
Di Islamic Centre Kabupaten Barru

Latar belakang
Pentingnya peran orang tua terhadap pendidikan anak bukanlah hal yang sepele karena pendidikan adalah modal utama yang harus dimiliki oleh setiap individu yang hidup agar dapat bertahan menghadapi perkembangan zaman. Seperti saat ini orang tua semakin menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak mereka sejak dini. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak terbukti memberikan banyak dampak positif bagi anak. Banyak yang mencapai kesuksesan setelah mereka menginjak usia dewasa dan terjun ke dalam dunia sosial yang sebenarnya. Peran aktif orang tua tentu saja perlu didukung oleh komunikasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah. Seperti orang tua yang terlibat di Sekolah Dasar (SD) akan menuai efek positif yang akan berlangsung seumur hidup anak. Jadi tidak hanya peran guru dan lingkungan yang penting tetapi peran orang tua juga memegang peranan yang sangat penting dalam prestasi belajar anak. Oleh karena itu orang tua harus lebih memperhatikan anak-anak mereka, melihat potensi dan bakat yang ada pada anak mereka, memberikan sarana dan prasarana untuk mendukung proses pembelajaran mereka di sekolah serta selalu memotivasi anak agar tetap semangat dalam belajar. Para orang tua juga diharapkan dapat melakukan semua itu dengan niat yang tulus untuk menciptakan generasi yang mempunyai moral yang baik dan wawasan yang tinggi serta semangat pantang menyerah.
Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk (1) memberikan gambaran akan pentingnya peran orang tua dalam pendidikan, dan (2) Menggambarkan bentuk-bentuk konstribusi yang dapat diberikan orang tua.

Permasalahan
Permasalahan yang dijadikan titik bahasan dalam makalah ini adalah bagaimana peran orang tua dalam pendidikan anak di sekolah
Peran Orang Tua Dalam Pendidikan
2.1  Arahkan Anak memili sekolah sesuai dengan bakat dan minatnya.
Sebelum mendaftarkan anak pada sekolah tertentu, cari informasi mengenai sekolah yang dituju yang disesuaikan dengan minat anak. Bila anak memiliki minat yang besar terhadap bahasa asing, tidak ada salahnya bila Anda memasukkan anak pada sekolah yang mengenalkan beberapa bahasa asing dalam pembelajarannya, atau pada ekstrakurikulernya.  
Selain itu, bila anak suka terhadap seni, Anda bisa memasukkannya pada sekolah yang memiliki berbagai ekstrakurikuler seni yang menjadi minatnya. Kesesuaian minat anak dengan sekolah akan memudahkan Anda dalam mengembangkan potensi anak. Selain itu, anak akan merasa senang bersekolah sesuai dengan minatnya.
2.2 Penuhi kebutuhan sekolahnya.
Sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban setiap orangtua untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya. Kebutuhan sekolah si Kecil, mencakup peralatan sekolah dan biaya sekolah. Peralatan sekolah seperti buku-buku sekolah, tas, pensil, buku gambar, dan lain-lain. Kebutuhan sekolah anak, baik biaya dan peralatan sekolah tak bisa dikatakan murah. Beberapa orangtua menyiapkan biaya pendidikan untuk anak-anaknya dengan asuransi pendidikan bahkan sebelum anaknya bersekolah. 
2.3. Dampingi anak belajar di rumah.
Anak terkadang tidak langsung memahami materi pelajaran tertentu yang ia dapat di sekolah. Anda, sebagai orang tuanya, diharapkan dapat membantunya menuntaskan masalah tersebut. Saat di rumah, dampingi anak belajar dan bantu anak untuk memahami materi pelajaran yang tidak dikuasainya. Minimal yang dapat dilakukan orang tua apabila tidak dapat mendampingi dalam menyelesaikan ketuntasan belajarnya adalah mengingatkan tugas-tugas belajarnya.
2.4. Motivasi anak untuk meraih cita-citanya melalui pendidikan.
Pendidikan formal sangat penting bagi anak dalam meraih cita-citanya. Anda harus memotivasi anak supaya rajin belajar dan bersekolah untuk meraih cita-cita yang diinginkannya. Contoh: “Adek katanya ingin jadi dokter ya? Kalau ingin jadi dokter, harus rajin belajar dan sekolah, supaya pintar dan cita-cita Adek tercapai” 
2.5. Ciptakan suasana nyaman dalam belajar.
Ciptakan suasana rumah yang nyaman dan tenang sehingga anak dapat berkonsentrasi saat belajar, seperti: kecilkan volume televisi atau matikan televisi, dan cahaya yang cukup untuk belajar.sehingga anak dapat melakukan aktivitas belajar. 
2.6. Perhatian dan kasih sayang.
Perhatian dan kasih sayang orangtua kepada anaknya sangat berperan dalam mendukung keberhasilan pendidikan anak. Misalnya, saat anak kesulitan dalam belajar, orangtua segera m   encari solusi untuk mengatasinya, saat anak mendapatkan masalah dengan teman-temannya orangtua juga dengan perhatian dan kasih sayangnya membantu menghadapi masalahnya. 
2.7. Menanamkan budi pekerti.
Menanamkan budi pekerti tak dapat dilepaskan dari peran orangtua. Banyak nilai-nilai budi pekerti yang harus diajarkan kepada anak, seperti sopan dalam berkata, tidak berkata jorok, menyapa orang lain, menghormati dan/atau menghargai orang lain, dan lain-lain. Hal ini penting ditanamkan pada diri anak sejak dini sehingga mereka bukan hanya menjadi anak yang cerdas di sekolah, tetapi juga cerdas dalam bersikap dan bersopan santun.
Pembahasan
Dalam regulasi Pendidikan yang berlaku di Negara Republik Indonesia, Pendidikan merupakan tanggung jawab kolaboratif Antara orangtua, pemerintah, dan masyarakat. Kerjasama, saling melengkapi dan memberikan kontribusi sesuai dengan kapasitas, batasan, dan ranah masing-masing. sehingga tujuan pendidikan baru dapat dicapai apabila terjadi kerjasama dan kolaborasi antara ketiganya.
pertimbangan ekonomi, oleh orang tua sering menjadi alasan pelimpahan pendidikan secara totalitas kepada guru yang memang mendapatkan pendidikan yang telah teruji dan tervalidasi, guru yang memang profesional dengan bidangnya. Namun demikian, orang tua tidak bisa kemudian lepas tangan dengan alasan tidak memiliki bekal pendidikan dan telah membayar misalnya.
Keterbatasan waktu di antara banyak kewajiban lain, orang tua memang wajib "menitipkan" anaknya ke lembaga pendidikan. Baik formal ataupun informal, demi tumbuh kembang anak. Mereka karena memang tidak tahu, karena kesibukan, karena keterbatasan skil, layak untuk memberikan kepercayaan kepada lembaga pendidikan untuk membantu, ingat membantu bukan memberikan oper tanggung jawab dan peran pendidikan.
Pendidikan modern memang tidak cukup sebatas tradisi, warisan, atau pendidikan turun temurun seperti zaman dulu lagi. Namun sering timbul salah paham bahkan menjadi paham yang salah karena keterbatasan pemahaman, pengetahuan, atau sikap egois beberapa pribadi.
"Memanjakan" anak atas nama kasih. Kasihan karena tidak pernah memperhatikan, contoh orang tua yang bekerja sepanjang hari, atau bekerja luar kota, bahkan lua negeri. Ketika ada kesempatan bersama, pekerjaan rumah pun diambilalih dan membuatkan, bukan lagi dan semata membantu. Membuatkan, atau menyusunkan jadwal untuk esok hari. Sikap tanggung jawab yang hendak ditanamkan bisa rusak jika tidak disadari dan adanya atas nama kasih atau kasihan ini. Hal ini  bisa terjadi  bahkan pada orang tua yang berpendidikan tinggi sekalipun.
Memaksa anak menjadi apa yang biasanya orang tua tidak bisa menjadi apa. Contoh, karena orang tua gagal  menjadi ahli mesin, karena kemampuan bisa masalah kemampuan otak, ekonomi, atau yang lain, memaksakan anak untuk menjadi ahli mesin.  Anak itu bukan boneka orang tua. Anak memiliki hak untuk menentukan apa dan mau menjadi apa atas hidupnya. Orang tua hanya menjadi fasilitator.  Membeayai itu adalah kewajiban bukan menjadi beban bagi anak, dan senjata bagi orang tua. Orang tidak tidak memiliki hak sama sekali atas ini.
Penutup
Demikian paparan makalah ini, semoga dapat memberikan konstribusi positf dalam pengembangan pendidikan, dan dapat memotivasi orang tua dalam memberikan konstribusinya dalam bidang pendidikan.
Daftar Pustaka
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Ditjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda.
Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Acuan menu pembelajaran pada pendidikan anak usia dini (Menu Pembelajaran Generetik).
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini. Ditjen Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional. (2004). Sosialisasi pendidikan anak usia dini.
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Ditjen Pendidikan Luar Sekolah. Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Teknik penyelenggaraan kelompok bermain.
Kenneth.W.Requena, Ed.D & Laurie Miller, Ed.D (2008). Good kids bad behaviour. Cet.I. Jakarta: Prestasi Pustakarya.
Materi Matrikulasi Program Pascasarjana UNY Yogyakarta (2011). Statistika. Yogyakarta.
Bridgemohan, Radhike., Van Wyk, Nollen., Van Staden, Christie (1992). Komunikasi rumah – sekolah dalam tahap awal perkembangan masa kanak-kanak. School of Education, University of South Africa.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.