MENJADI GURU PROFESIONAL DI ERA DIGITAL

Dr. Hj. Darmawati, S.Ag. M.Pd.
(IAIN Parepare)

DIsajikan pada Seminar Internasional Agupena Kab. Barru 27-28 April 2019
di Islamic Centre Kabupaten Barru

Pendahuluan
                Salah satu penanda perkembangan peradaban manusia ialah perkembangan teknologi. Perkembangan itu tentunya akan mempengaruhi berbagai macam unsur dalam kehidupan manusia, salah satunya ialah dunia pendidikan. Pengaruh itu dapat terlihat dari berbagai perbedaan yang nampak dari kegiatan belajar mengajar era digital saat ini dengan masa lalu. Misalnya, dulu, untuk mengakses informasi, siswa hanya bisa mengaksesnya melalui buku, media cetak, seperti koran dan majalah, dan tentu saja guru. Sedangkan, kini, siswa dapat dengan mudah mengakses informasi melalui internet.
                Perbedaan itu menunjukkan bahwa siswa pada era digital saat ini lebih memiliki akses lebih besar kepada informasi karena adanya perkembangan teknologi. Oleh sebab itu kemampuan anak-anak saat ini sering disebut sebagai anak-anak Generasi Z.
                Rachman, menyatakan bahwa Generasi Z merupakan generasi digital yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer. Bahkan, informasi yang diakses oleh para Generasi Z ini tak terbatas pada informasi yang berkaitan dengan pendidikan saja, melainkan informasi yang berkaitan dengan kepentingan pribadi mereka.
                Generasi tersebut memiliki beberapa ciri yang dapat terlihat dalam kehidupan sehari-harinya. Ciri-ciri itu, menurut Arief, seperti sangat suka dan sering berkomunikasi dengan semua kalangan khususnya lewat jejaring sosial seperti facebook, twitter, atau SMS. Melalui media tersebut, mereka jadi lebih bebas berekspresi, baik apa yang mereka rasakan atau pikirkan secara spontan.
                Kang, Kim, Kim & You (2012) mencatat bahwa perubahan standar kinerja akademik terjadi seiring dengan perkembangan teknologi informasi komunikasi (TIK) dan pertumbuhan ekonomi global. Sehingga tidak dapat disangkal lagi bahwa profesionalisme guru terhadap teknologi informasi merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi, seiring dengan semakin meningkatnya perkembangan teknologi informasi di era digital ini.
                Hasan (2004) menjelaskan bahwa beban pekerjaan guru masa mendatang akan semakin bertambah terutama karena perubahan cepat yang terjadi dalam masyarakat yang diakibatkan adanya perubahan nilai secara mendasar, perubahan sebagai konsekuensi dari pemanfaatan teknologi komunikasi yang semakin dahsyat, kehidupan politik yang menghendaki perilaku warga negara ke arah lebih positif dan konstruktif dalam membina kehidupan kebangsaan yang sehat dan produktif, dan kehidupan ekonomi yang menuntut adanya kemampuan dan sikap baru untuk menghadapi persaingan.
                Hal itu, Generasi Z memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, anak-anak yang termasuk dalam generasi tersebut memiliki daya toleransi yang lebih besar terhadap perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan. Lalu, mereka mampu melakukan berbagai aktifitas dalam waktu bersamaan, seperti membaca buku sembari mendengarkan musik.
                Kelemahan anak-anak Generasi Z itu ialah selalu menginginkan segala sesuatu secara cepat, tanpa bertele-tele ataupun berbelit-belit. Selain itu, generasi tersebut cenderung kurang dalam berkomunikasi secara verbal, cenderung egosentris dan individualis, cenderung ingin serba instan, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses.
                Tentunya hal itu perlu menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat, khususnya para guru sebagai garda terdepan dalam sistem pendidikan Indonesia. Oleh sebab itu, guru harus mampu memahami berbagai perkembangan teknologi dan mampu mengaplikasikannya. Hal itu tentu saja agar dapat menyampaikan ilmu kepada para siswa yang jelas-jelas termasuk ke dalam Generasi Z.
                Dalam menghadapi semua perkembangan yang ada di era digital seperti perkembangan sosial, informasi tekhnologi dan serta budaya yang tentunya juga mempengaruhi gaya pikir siswa maka diperlukan sebuah strategi peningkatan profesionalisme guru sehingga menghasilkan guru yang betul-betul profesional seiring perkembangan teknologi informasi seperti sekarang ini.
Rumusan masalah
Berdasarkan fenomena di latar belakang maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.       Bagaimanakah tantangan profesionalisme yang dihadapi para guru di era digital
2.       Bagaimanakah menjadi guru profesional di era digital

Pembahasan
A. Tantangan Profesionalisme Guru di Era Digital
                Era digital yang tahapannya sudah di mulai pada masa sekarang ini, ternyata telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap dunia pendidikan. Dunia pendidikan dimasa sekarang benar-benar dihadapkan pada tantangan yang cukup berat yang penanganannya memerlukan sebuah strategi dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait.
                Adapun rekomendasi strategi dalam menghadapi tantangan guru profesionalis di era digital adalah sebagai berikut :
a.       Pengembangan Kompetensi Pedagogis
                Kompetensi pedagogis atau kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran merupakan tulang punggung keberhasilan proses pendidikan di sekolah. Kompetensi pedagogis ini terkait dengan cara mengajar yang baik dan tepat, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan efektif. Seorang guru, selain harus memiliki kompetensi di bidang keilmuannya, juga harus menguasai teori-teori dan teknik pengajaran serta aplikasinya dalam proses pembelajaran di sekolah. Sebab itu, peningkatan kemampuan di bidang ini merupakan hal utama dalam pengembangan profesionalisme guru.
Untuk meningkatkan kemampuan pedagogis ini, para tenaga guru perlu diberikan pelatihan yang terkait dengan metode pengajaran di sekolah yang meliputi:
1.       Metode Diskusi (Discussion Method). Metode ini lebih efektif dari metode ceramah, karena diskusi menuntut mental dan pikiran serta tukar menukar pendapat. Selain itu, diskusi juga lebih komunikatif, mampu menjelaskan hal-hal yang masih semu, dan mampu mengungkap tingkat keaktifan setiap siswa.
2.       Metode Studi Kasus (The Case Method). Metode ini relevan terutama untuk program studi yang menekankan penerapan suatu hukum terhadap suatu kasus, misalnya di fakultas hukum atau fakultas pertanian, dan lain-lain. Suatu kasus dijadikan bahan untuk diskusi siswa di bawah bimbingan guru.
3.       Metode Tutorial (Tutorial Method). Metode ini berupa penugasan kepada beberapa siswa tentang suatu objek tertentu, lalu mereka mendiskusikannya dengan pakar di bidangnya untuk memastikan validitas pemahaman mereka tentang objek tersebut.
4.       Metode Tim Pengajar (Team Teaching Method). Salah satu bentuk dari metode ini adalah sekurang-kurangnya dua orang guru mengajar satu mata pelajaran yang sama dalam waktu yang sama pula, namun dengan pokok bahasan yang saling melengkapi.
Dalam Kompetensi ini guru harus memiliki 10 kemampuan,yaitu sebagai berikut: 1) Kemampuan menguasai bahan pelajaran yang disajikan 2) Kemampuan mengelola program belajar mengajar 3) Kemampuan mengelola kelas 4) Kemampuan menggunakan media/sumber belajar 5) Kemampuan menguasai landasan-landasan pendidikan 6) Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar 7) Kemampuan menilai prestasi peserta didik untuk kependidikan pengajaran 8) Kemampuan mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan 9) Kemampuan mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah 10) Kemampuan memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.
b.      Pengembangan Kompetensi Teknik Informasi
Perkembangan teknologi informasi yang demikian cepat merupakan tantangan baru bagi para praktisi pendidikan, termasuk guru. Para pakar pendidikan memandang bahwa penguasaan para guru terhadap teknologi informasi sangat berpengaruh terhadap kesuksesannya dalam mengelola pembelajaran di sekolah. Sebab itu, para guru perlu diberikan pelatihan penggunaan berbagai macam teknologi informasi yang tersedia saat ini, mulai dari komputer, televisi, video conference, hingga dunia internet. Pengembangan kemampuan memanfaatkan teknologi informasi ini dibutuhkan dalam perencanaan pendidikan, terutama yang terkait dengan analisis, desain, implementasi, manajemen, hingga evaluasi instruksional pendidikan.
Bentuk pelatihan yang fokusnya adalah keterampilan tertentu yang dibutuhkan oleh guru untuk melaksanakan tugasnya secara efektif. Pelatihan ini cocok dilaksanakan pada salah satu bentuk pelatihan pre-service atau in-service. Model pelatihan ini berbeda dengan pendekatan pelatihan yang konvensional, karena penekanannya lebih kepada evaluasi performan nyata suatu kompetensi tertentu dari peserta latihan.
Untuk pengembangan kemampuan teknologi informasi ini dibutuhkan beberapa hal berikut: 1) Ketersediaan fasilitas teknologi berikut perlengkapannya, baik berupa komputer, video, proyektor, perlengkapan internet, dan sebagainya. 2) Ketersediaan isi serta bahan-bahan terkait metode penggunaan teknologi informasi tersebut untuk mendukung metode pengajaran dan pelaksanaan kurikulum pendidikan. 3) Penyelenggaraan pelatihan bagi para guru tentang cara penggunaan alat-alat teknologi informasi tersebut, sehingga pada saatnya mereka dapat mengajarkannya juga kepada para siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran akan berlangsung lebih efektif dan produktif.
B. Pengembangan Kualitas Guru
                Agar guru mampu menghadapi berbagai perkembangan teknologi itu, Arief mengemukakan, ada sepuluh standar pendidikan yang harus diperhatikan agar mampu memberikan pendidikan yang ideal kepada para peserta didik. Salah satu poin yang tak kalah penting pada standar pendidikan itu ialah standar pendidik dan tenaga kependidikan.[1]
                Ada tiga hal yang harus dilakukan seorang guru yang bermutu dan berkualitas, yaitu:
1.       Pupil centered (berorientasi pada siswa), 
2.       Dynamics (dinamis), dan 
3.       Democratic (demokratis).
Dengan melakukan ketiga hal itu, guru tak hanya menjadi seorang pengajar di kelas namun juga bisa menjadi seorang pendidik yang mampu menginspirasi.
                Kriteria guru ideal di era digital sebagai berikut:
1.       Harus memiliki kualitas yang tinggi agar dapat menjadi seorang pendidik. Dia harus memiliki preferensi keilmuan yang cukup kuat dan ahli di bidang ilmunya.
2.       Harus mengetahui sedikit banyaknya tentang pengetahuan psikologi anak. Pengetahuan ini diperlukan sebab setiap siswa yang akan dihadapinya memiliki kepribadian, karakter, dan keunikan yang berbeda-beda dan harus memahami kondisi psikologis anak didiknya.
3.       Harus memiliki referensi metodologis pengajaran yang cukup luas. Sehingga dia mampu menyampaikan materi pembelajaran secara sederhana dan mampu dipahami oleh para siswanya. Akan lebih baik, bila mampu menguasai teknologi terkini sehingga hal itu dapat langsung diaplikasikan dalam metode pembelajarannya. Adapun, kemampuan ini juga diperlukan agar menciptakan suasana kelas yang kondusif.
4.       Harus memahami keadaan sosiologis dirinya dan siswa yang dididiknya. Pengetahuan itu akan sangat membantu memetakan keadaan sosiologi siswanya yang pastinya berbeda antara satu dengan lainnya. Dengan memiliki preferensi sosial yang cukup, maka dia mampu memetakan metode apa yang sesuai diterapkan kepada siswa-siswanya agar ilmu yang diajarkannya dapat dipahami.
                Keempat hal itu tentunya dapat menjadi acuan seorang guru bermutu tinggi dan terus mengembangkan diri serta selalu ingin belajar perkembangan yang ada. Sebab, untuk mampu mendidik anak-anak Generasi Z, harus memiliki amunisi yang berkualitas dan mampu menjadi insan kreatif.
                Guru di era digital memang harus memiliki kualitas yang mumpuni agar dapat menjadi seorang pendidik inspiratif. Akan tetapi, kualitas itu tidak akan cukup bila tidak didampingi oleh tools atau piranti yang tepat. Untuk dapat mendidik anak-anak Generasi Z, dibutuhkan tools berbasis internet yang dapat dengan mudah diakses dan digunakan oleh mereka. Tentunya, akses itu tak hanya berisikan basis informasi dan materi perihal ilmu yang tengah dipelajarinya.
                Namun, harus pula memiliki fitur lain yang pastinya membuat siswa leluasa bereksperimen untuk menguasai suatu cabang ilmu tertentu. Oleh sebab itu, kehadiran Quipper di Indonesia sebagai platform pendidikan digital dirasa tepat sebagai tools bagi guru untuk menjangkau siswa-siswanya yang termasuk anak-anak Generasi Z.
                Dengan visi “Distributors of Wisdom,” Quipper sejatinya memiliki tujuan untuk meminimalisir kesenjangan pendidikan yang terjadi hampir di berbagai belahan dunia melalui kanal-kanal digitalnya. Dua produk Quipper, yakni Quipper School dan Quiper Video, memungkinkan guru dan siswa dapat berinteraksi dan melakukan kegiatan belajar mengajar secara online.
                Keberadaan Quipper itu, menurut Arief, sejalan dengan metode pengajaran di era digital, yakni terpusat pada siswa. “Quipper menyediakan soal-soal dan materi pelajaran, tapi guru tetap yang utama membimbing siswa saat belajar. Dalam era digital metode mengajar harus berpusat pada siswa. Teknologi hanya sarana, guru membimbing dan membantu siswa,”.
                Dengan begitu, Quipper dapat menjadi salah satu platform yang dapat digunakan guru agar dapat menyampaikan ilmu kepada siswanya. Dengan begitu, kesenjangan teknologi antara guru dan siswanya dapat terjembatani.
C. Menjadi Guru Profesional di Era Digital
                Era digital membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Kehidupan bermasyarakat berubah dengan cepat karena dunia semakin menyatu apalagi ditopang oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, seningga batas-batas masyarakat dan negara menjadi tidak terbatas lagi. Termasuk di dalam perubahan global adalah profesi guru. Sesuai dengan tuntutan perubahan masyarakat, profesi guru juga menuntut profesionalisme. Guru profesional bukan lagi merupakan sosok yang berfungsi sebagai robot, tetapi merupakan dinamisator yang mengantar potensi-potensi peserta ke arah kreativitas.
                Komisi Internasional bagi Pendidikan abad ke-21 yang ditandai dengan era digital dibentuk oleh UNESCO melaporkan bahwa di era digital ini pendidikan dilaksanakan dengan bersandar pada empat pilar pendidikan, yaitu:
a.       Larning to know, Dalam learning to know peserta didik belajar pengetahuan yang penting sesuai dengan jenjang pendidikan yang diikuti.
b.       Learning to do, Dalam learning to do peserta didik mengembangkan keterampilan dengan memadukan pengetahuan yang dikuasai dengan latihan (law of practice), sehingga terbentuk suatu keterampilan yang memungkinkan peserta didik memecahkan masalah dan tantangan kehidupan.
c.        Learning to be, Dalam learning to be, peserta didik belajar menjadi individu yang utuh, memahami arti hidup dan tahu apa yang terbaik dan sebaiknya dilakukan, agar dapat hidup dengan baik.
d.        Learning to live together (Delors, 1996). Dalam learning to live together, peserta didik dapat memahami arti hidup dengan orang lain, dengan jalan saling menghormati, saling menghargai, serta memahami tentang adanya saling ketergantungan (interdependency), (Delors, 1996).
                Direktorat Tenaga Kependidikan (2007) menjelaskan bahwa guru merupakan unsur pendidikan yang sangat dekat hubungannya dengan anak didik, dalam upaya pendidikan sehari-hari di sekolah dan banyak menentukan keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan.
                Menurut Mulyasa 2008), ada tiga syarat yang harus diperhatikan dalam pembangunan pendidikan agar dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, yaitu:
a.       Guru dan tenaga kependidikan yang profesional;
b.       Sarana gedung; dan
c.       Buku yang berkualitas. Jadi, guru yang profesional merupakan syarat utama yang harus dipenuhi agar pendidikan dapat berhasil mewujudkan tujuan pendidikan nasional.  
                Menurut pandangan Islam, profesional khususnya dibidang pendidikan, seseorang harus benar-benar mempunyai kualitas keilmuan kependidikan dan keinginan yang memadai guna menunjang tugas jabatan profesinya, serta tidak semua orang bisa melakukan tugas dengan baik. Apabila tugas tersebut dilimpahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tidak akan berhasil bahkan akan mengalami kegagalan, terkait dengan hal tersebut dalam Alquran surat An-Nisa ayat 58 Allah SWT berfirman: Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah maha mendengar lagi maha melihat. (Q.S. An-Nisa: 58).
                Demikian juga dalam hadis Nabi SAW: Artinya: Dari Abu Hurairah r.a ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Jika amanah telah hilang (sudah tidak dipegang lagi dengan teguh), maka tunggulah saat kehancurannya. Ia bertanya: Ya Rasul, bagaimana orang menghilangkan amanah itu? Rasul menjawab: (Yaitu) apabila suatu urusan (amanah) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. (HR. Bukhari dalam Ahmad, 1996).
                Ayat dan Hadits di atas dapat dipahami bahwa keprofesionalan itu sangat penting sekali untuk mencapai suatu tujuan yang akan dicapai secara optimal. Terdapat beberapa hal penting nilai yang terdapat dalam ayat dan hadis tersebut, antara lain:
1.       Seorang tenaga profesional adalah yang bersifat Al-Amin (dapat dipercaya), Al-Hafdz (dapat menjaga amanah), dan Al-Wafiya (yang merawat sesuatu dengan baik);
2.       Guru profesional dalam pandangan Islam adalah yang memiliki keahlian;
3.       Guru profesional dalam pandangan Islam adalah yang dapat bertindak adil.           Hal ini sejalan dengan pendapat Bubb dan Earley (2007) mengemukakan bahwa “Professional development is crucial for organizational growth and school improvement the professional growth of teachers and other staff is akey component of developing children’s learning”. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa pengembangan profesional sangat penting untuk pertumbuhan lembaga pendidikan dan perbaikan sekolah. Pertumbuhan profesional guru dan staf lainnya adalah komponen kunci pengembangan pembelajaran anak-anak.
                Mengacu pada pernyataan Saud (2009) dapat dikemukakan ciri-ciri guru profesional, yaitu: (1) mempunyai komitmen terhadap budaya organisasi atau komitmen pada proses belajar siswa; (2) menguasai secara mendalam materi pelajaran dan cara mengajarkannya; (3) mampu berpikir secara sistematis tentang apa yang dilakukan dan belajar dari pengalamannya; dan (4) merupakan bagian masyarakat belajar dari lingkungan profesinya yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan profesionalismenya.
                Hal ini juga sesuai dengan pendapat Rusman (2009) mengemukakan ciri-ciri guru profesional adalah: 1) mempunyai komitmen dalam kepentingan siswa dan pembelajaran; 2) menguasai secara mendalam materi ajar, dan penggunaan metode dan strategi pembelajaran; 3) mampu berpikir sistematik dan selalu belajar dari pengalaman, mau refleksi diri, dan koreksi; 4) proses belajar mengajar semakin baik; 5) bertanggung jawab memantau dan mengamati perilaku siswa melalui kegiatan evaluasi, aplikasi di kelas maupun membuat program evaluasi analisis, dan remedial, serta melaksanakan bimbingan.
                Di era digital ini guru dengan kemampuan artifisialnya dapat membelajarkan siswa dalam jumlah besar, bahkan dapat melayani siswa yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Guru bukan lagi hanya mengendalikan siswa yang belajar di kelas, tetapi ia mampu membelajarkan jutaan siswa di "kelas dunia" memberi pelayanan secara individual pada waktu yang bersamaan. Sehingga dengan teknologi informasi internet, ilmu pengetahuan dapat di transmisikan pada kecepatan tinggi. Tuntutan kemampuan” dan “kesempatan” untuk mengakumulasi, mengolah, menganalisis, mensintesa data menjadi informasi, kemudian menjadi ilmu pengetahuan yang bermanfaat sangatlah penting artinya dalam dunia informasi saat ini (Hujair,2004).
                Kondisi ini, akan berpengaruh pada kebiasaan dan budaya guru yang selama ini dilakukan. Sebab, ilmu pengetahuan akan tersebar dimana-mana dan setiap orang akan dengan mudah memperoleh pengetahuan tanpa kesulitan karena diperoleh melalui sarana “internet” dan “media informasi” lainnya. “Paradigma ini dikenal sebagai distributed intelligence (distributed knowledge) dan dengan paradigma ini, tampaknya fungsi guru/dosen/lembaga-lembaga pendidikan yang akhirnya akan beralih dari sebuah sumber ilmu pengetahuan menjadi ”mediator” dari ilmu pengetahuan.
                Maka, proses long life learning dalam dunia informal yang sifatnya lebih learning based daripada teaching based akan menjadi kunci perkembangan sumber daya manusia. Jadi paradigma baru sistem pendidikan di era digital ini, peserta didik dianggap telah memiliki pengetahuan awal, dan tugas guru hanya mengkonstruksinya saja.
                Peserta didik dianalogikan tanaman yang sudah punya potensi untuk tumbuh dan berkembang, sedangkan guru hanya berfungsi sebagai penyiram yang membantu tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik. Akibatnya, peran guru dalam mengajar berubah dari pengajar menjadi fasilitator dengan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center), tidak lagi berpusat pada guru (teacher center).
                Proses Belajar Mengajar mendatang bersifat memandirikan siswa dalam mengeksplorasi rasa keingintahuan mereka dengan pendekatan memecahkan masalah yang diberikan guru (Junus, 2011). Guru pada abad ini dan abad selanjutnya ditantang untuk melakukan akselerasi terhadap perkembangan informasi dan komunikasi. Pembelajaran di kelas dan pengelolaan kelas, pada abad ini harus disesuaikan dengan standar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Menurut Susanto (2010), terdapat 7 tantangan guru di abad 21 (era digital), yaitu:
1.       Teaching in multicultural society, mengajar di masyarakat yang memiliki beragam budaya dengan kompetensi multi bahasa.
2.       Teaching for the construction of meaning, mengajar untuk mengkonstruksi makna (konsep).
3.       Teaching for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif
4.       Teaching and technology, mengajar dan teknologi
5.       Teaching with new view about abilities, mengajar dengan pandangan baru mengenai kemampuan.
6.       Teaching and choice, mengajar dan pilihan
7.       Teaching and accountability, mengajar dan akuntabilitas.             
                Kemampuan professional pendidik amatlah penting dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, bahwa titik berat pembangunan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan. Beberapa hasil penelitian tentang peran dan kompetensi guru menyebutkan bahwa guru sekolah dasar yang progresif atau tradisionalhanya membawa sedikit keberhasilan prestasi belajar Bennet dalam Mujis (2008).
                Menjadi guru professional menghadapi era digital paling tidak telah mempunyai ciri-ciri sebagi berikut:
a.       Mempunyai komitmen pada proses belajar siswa
b.       Menguasai secara mendalam materi pelajaran dan cara mengajarkannya
c.       Mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya.
Guru yang sesuai dengan kondisi globalisasi di era digital ini adalah guru yang mampu menguasai dan mengendalikan perubahan-perubahan yang berwawasan IPTEK. Ciri seorang guru yaitu mempunyai kemampuan dalam mengantisipasi, mengakomodasi, dan mereorientasi terhadap perkembangan yang ada. Mengantisipasi perkembangan IPTEK mencakup kemampuan intelektual dan sikap yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan, yang pada gilirannya mengantarkan peserta didik kepada tingkat penguasaan dan pengendalian terhadap situasi yang selalu berubah. Untuk pengembangan kemampuan teknologi informasi ini dibutuhkan beberapa hal berikut:
1.       Ketersediaan fasilitas teknologi berikut perlengkapannya, baik berupa komputer, video, proyektor, perlengkapan internet, dan sebagainya.
2.       Ketersediaan isi serta bahan-bahan terkait metode penggunaan teknologi informasi tersebut untuk mendukung metode pengajaran dan pelaksanaan kurikulum pendidikan.
3.       Penyelenggaraan pelatihan bagi para guru tentang cara penggunaan alat-alat teknologi informasi tersebut, sehingga pada saatnya mereka dapat mengajarkannya juga kepada para siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran akan berlangsung lebih efektif dan produktif.
                Selain kompetensi profesional, keterampilan guru di era digital juga perlu  lebih dipertajam sebagaimana International Society for Technology in Education, membagi keterampilan guru abad 21 kedalam lima kategori, yaitu :
1.       Mampu memfasilitasi dan menginspirasi belajar dan kreatifitas siswa, dengan indikator diantaranya adalah sebagai berikut : (a) Mendorong, mendukung dan memodelkan penemuan dan pemikiran kreatif dan inovatif. (b) Melibatkan siswa dalam menggali isu dunia nyata (real world) dan memecahkan permasalahan otentik menggunakan tool dan sumber-sumber digital. (c) Mendorong refleksi siswa menggunakan tool kolaboratif untuk menunjukan dan mengklarifikasi pemahaman, pemikiran, perencanaan konseptual dan proses kreatif siswa. (d) Memodelkan konstruksi pengetahuan kolaboratif dengan cara melibatkan diri belajar dengan siswa, kolega, dan orang-orang lain baik melalui aktifitas tatap muka maupun melalui lingkungan virtual.
2.       Merancang dan mengembangkan pengalaman belajar dan asessmen era digital, dengan indikator sebagai berikut: (a) Merancang atau mengadaptasi pengalaman belajar yang tepat yang mengintegrasikan tools dan sumebr digital untuk mendorong belajar dan kreatifitas siswa. (b) Mengembangkan lingkungan belajar yang kaya akan teknologi yang memungkinkan semua siswa merasa ingin tahu dan menjadi partisipan aktif dalam menyusun tujuan belajarnya, mengelola belajarnya sendiri dan mengukur perkembangan belajarnya sendiri. (c) Melakukan kostumisasi dan personalisasi aktifitas belajar yang dapat memenuhi strategi kerja gaya belajar dan kemampuan menggunakan tools dan sumber-sumber digital yang beragam. (d) Menyediakan alat evaluasi formatif dan sumatif yang bervariasi sesuai dengan standar teknologi dan konten yang dapat memberikan informasi yang berguna bagi proses belajar siswa maupun pembelajaran secara umum.
3.       Menjadi model cara belajar dan bekerja di era digital, dengan indikator sebagai berikut : (a) Menunjukkan kemahiran dalam sistem teknologi dan mentransfer pengetahuan ke teknologi dan situasi yang baru. (b) Berkolaborasi dengan siswa, sejawat, dan komunitas menggunakan tool-tool dan sumber digital untuk mendorong keberhasilan dan inovasi siswa. (c) Mengkomunikasikan ide atau gagasan secara efektif kepada siswa, orang tua, dan sejawat menggunakan aneka ragam format media digital. (d) Mencontohkan dan memfasilitasi penggunaan secara efektif daripada tool-tool digital terkini untuk menganalisis, mengevaluasi, dan memanfaatkan sumber informasi tersebut untuk mendukung penelitian dan belajar.
4.       Mendorong dan menjadi model tanggung jawab dan masyarakat digital, dengan indikator diantaranya sebagai berikut: (a) Mendorong, mencontohkan, dan mengajar secara sehat, legal dan etis dalam menggunakan teknologi informasi digital, termasuk menghagrai hak cipta, hak kekayaan intelektual dan dokumentasi sumber belajar. (b) Memenuhi kebutuhan pembelajar yang beragam dengan menggunakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan memberikan akses yang memadai terhadap tool-tool digital dan sumber belajar digital lainnya. (c) Mendorong dan mencontohkan etika digital tanggung jawab interkasi sosial terkait dengan penggunaan teknologi informasi. (d) Mengembangkan dan mencontohkan pemahaman budaya dan kesadaran global melalui keterlibatan/partisipasi dengan kolega dan siswa dari budaya lain menggunakan tool komunikasi dan kolaborasi digital.
5.       Berpartisipasi dalam pengembangan dan kepemimpinan profesional, dengan indikator sebagai berikut : (a) Berpartisipasi dalam komunitas lokal dan global untuk menggali penerapan teknologi kreatif untuk meningkatkan pembelajaran. (b) Menunjukkan kepemimpinan dengan mendemonstrasikan visi infusi teknologi, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan bersama dan penggabungan komunitas, dan mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan teknologi kepada orang lain. (c) Mengevaluasi dan merefleksikan penelitian-penelitian dan praktek profesional terkini terkait dengan penggunaan efektif daripada tool-tool dan sumber digital untuk mendorong keberhasilan pembelajaran. (d) Berkontribusi terhadap efektifitas, vitalitas, dan pembaharuan diri terkait dengan profesi guru baik di sekolah maupun dalam komunitas.
                Dengan peningkatan kompetensi profesional dan keterampilan guru diharapkan menjadi solusi terwujudnya guru profesional di era digital ini.

Penutup
1.       Tantangan guru di abad 21 (era digital),  ada 7 yaitu: a. Teaching in multicultural society, mengajar di masyarakat yang memiliki beragam budaya dengan kompetensi multi bahasa. b. Teaching for the construction of meaning, mengajar untuk mengkonstruksi makna (konsep). c. Teaching for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif d. Teaching and technology, mengajar dan teknologi e. Teaching with new view about abilities, mengajar dengan pandangan baru mengenai kemampuan. f. Teaching and choice, mengajar dan pilihan g. Teaching and accountability, mengajar dan akuntabilitas.
2.       Tantangan mrnjadi guru profesional di era digital menurut data dari Kemenkominfo, Indonesia masih memerlukan lebih dari 60 juta orang melek digital. Menghadapi sejumlah persaingan global, tentu bangsa kita diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik dan menghindari ketertinggalan. Teknologi informasi maju pesat. Setiap manusia modern pun dituntut menguasainya. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menargetkan semua guru baru melek teknologi informasi (TI) pada tahun 2020. Berdasarkan data dari PGRI saat ini masih banyak guru yang belum melek teknologi dan informasi. “Dari hasil uji kompetensi terhadap 1,3 juta guru, ternyata sekitar 30 persen guru, terutama yang sudah tua kesulitan menggunakan teknologi Internet,”
3.       Menjadi guru profesional sesuai dengan kondisi globalisasi di era digital  adalah guru yang mampu menguasai dan mengendalikan perubahan-perubahan yang berwawasan IPTEK.Ciri seorang guru yaitu mempunyai kemampuan dalam mengantisipasi, mengakomodasi, dan mereorientasi terhadap perkembangan yang ada. Mengantisipasi perkembangan IPTEK mencakup kemampuan intelektual dan sikap yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan, yang pada gilirannya mengantarkan peserta didik kepada tingkat penguasaan dan pengendalian terhadap situasi yang selalu berubah
Daftar Pustaka
Arief,i Konferensi Guru Nasional 2016 bertemakan ‘Tantangan Masa Kini:              Siapkah Guru Indonesia Mengantar Siswa ke Era Digital?’ yang diadakan        di AXA Tower Kuningan, Jakarta, Minggu (28/8).
Hamid, Hasan. (2004). Profesionalisme Guru dalam Implementasi Kurikulum         Berbasis Kompetensi. Makalah Jurnal Himpunan Pengembang Kurikulum          Indonesia (HIPKIN). Bandung: HIPKIN
Helly, Prajitno Soetjipto dan Sri, Mulyantini Soetjipto. (2008). Efective Teacing,    terj. Daniel Muijs dan David Reynold, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Junus Nurpit. (2011). Tantangan Guru Di Era Digital,        http://nurpitjunus.blogspot.com/2011/10/tantangan-guru-di-era-        digital.html. Diakses tanggal 10 Juli 2016.
Kang, M., Kim, M., Kim, B., & You, H. (n.d.).(2012) Developing an Instrumen to      Measure 21st Century Skills for Elementary Student.
Kunandar. (2007). Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan         Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. Jakarta:      PT. Raja Grafindo Persada.
Mulyasa, E. (2008). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT.            Remaja Rosda Karya
Sagala,Syaiful. (2009). Kemampuan Profesional Guru Dan Tenaga Pendidikan.      Jakarta: PT. Pustaka Jaya.
Sanaky, Hujair AH. (2004). Tantangan Pendidikan Islam di Era Informasi (Pergeseran Paradigma Pendidikan Islam Indonesia di Era Informasi),         Jurnal Stusi Islam MUKADDIMAH, Kopertais Wilayah III dan PTAIS               DIY, No. 16TH.X/2004, ISSN:0853- 6759, Yogyakarta.
Sarwono, Sarlito Wirawan. (2003). “Profesionalisme Guru”, dalam Menggagas    Pendidikan Rakyat, Anshori, Dadang S, (Ed), Alqaprint, Bandung
Supriadi, Dedi. (1998). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa


                [1]Arief,i Konferensi Guru Nasional 2016 bertemakan ‘Tantangan Masa Kini: Siapkah Guru Indonesia Mengantar Siswa ke Era Digital?’ yang diadakan di AXA Tower Kuningan, Jakarta, Minggu (28/8).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.